MAKALAH TEKNIK PENGUMPULAN DATA
MAKALAH
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Statistik
Kelompok 3
Sri Hartati Nurhaliza Agustin Dosen Pengampu:
Atiqoh Hanum, M.Pd
Program Studi: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Semester V-Sore
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Washliyah
Kota Binjai
2023
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya.
Selawat beriringan salam tetap kita limpahkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang membawa kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang ini yakni agama islam.
Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada ibu Athiqoh Hanum, M.Pd. selaku dosen pengampu yang telah memberikan pengarahan dan pengajaran yang sangat berarti bagi kami penulis tugas makalah ini.
Penulis mengharapkan saran dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan makalah ndividu ini. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah individu ini. Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak dan dosen pengampu yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir, semoga kiranya Allah Swt. senantiasa meridhoi.
Demikianlah makalah individu ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Demikianlah tugas makalah ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Binjai, 16 September 2023
Penulis
i
Daftar Isi
BAB I Pendahuluan ..................................................................................................................... 1
BAB II Pembahasan .................................................................................................................... 2
A. Pengertian Teknik Pengumpulan Data ............................................................................. 2
B. Jenis-jenis Teknik Pengumpulan Data .............................................................................. 3
C. Penerapan Teknik Pengumpulan sesuai Indikator ............................................................ 9
BAB III Penutup .......................................................................................................................... 14
A. Kesimpulan ....................................................................................................................... 14
B. Saran ................................................................................................................................. 14
Daftar Pustaka ............................................................................................................................. 15
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan secara sistematis yangditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan masalah. Sebagai suatu kegiatansistematis penelitian harus dilakukan dengan teknik tertentu yang dikenal dengan istilah teknik penelitian,yakni suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.Cara ilmiah ini harus didasari ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.
Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh penelitiuntuk pengumpulan data. Teknik dalam menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkandalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi, dan lain-lain. Peneliti dapat menggunakan salah satu ataugabungan teknik tergantung dari masalah yang dihadapi atau yang diteliti.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian teknik pengumpulan data?
2. Apa sajakah jenis-jenis teknik pengumpulan data?
3. Bagaimana cara penerapan teknik pengumpulan sesuai Indikator?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian teknik pengumpulan data
2. Mengetahui jenis-jenis teknik pengumpulan data
3. Mengetahui penerapan teknik pengumpulan sesuai Indikator
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknik Pengumpulan Data
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian teknik pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Teknik pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk menghimpun data. Teknik (cara atau metode) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainya. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data.
Dalam teknik pengumpulan data diperlukan instrumen. Instrumen adalah alat yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu (seperti alat yang dipakai oleh pekerja teknik, alat-alat kedokteran, optik, dan kimia), perkakas, sarana penelitian (berupa seperangkat tes dan sebagainya) untuk mengumpulkan data sebagai bahan pengolahan.
Menurut Suharsimi Arikunto, instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Ibnu Hadjar berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif. Sementara itu, Sumadi Suryabrata menyatakan bahwainstrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atributatribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan.
Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, serta instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan lebih mudah. Metode pengumpulan data menunjukkan cara-cara yang dapat ditempuh untuk memperoleeh data yang dibutuhkan.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi. Yaitu obervasi nonpartisipan, dimana peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa generalisasi teknik pengumpulan data dan instrumennya adalah teknik dan alat bantu yang digunakan dalam sebuah pencarian untuk mengumpulkan aneka ragam informasi yang diolah secara kualitatif atau kuantitatif kemudian disusun secara sistematis.
B. Jenis-jenis Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam proses penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data yang diperlukan disini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat, sehingga benar-benar didapat data yang valid dan reliable.
Dalam suatu penelitian, langkah pengumpulan data adalah satu tahap yang sangat menentukan terhadap proses dan hasil penelitian yang akan dilaksanakan tersebut. Kesalahan dalam melaksanakan pengumpulan data dalam satu penelitian akan berakibat langsung terhadap proses dan hasil suatu penelitian.
Kegiatan pengumpulan data pada prinsipnya merupakan kegiatan penggunaan teknik dan instrumen yang telah ditentukan dan diuji validitas dan reliabilitasnya. Secara sederhana, pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian. Dalam prakteknya, pengumpulan data ada yang dilaksanakan melalui pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan kondisi tersebut, pengertian pengumpulan data diartikan juga sebagai proses yang menggambarkan proses pengumpulan data yang dilaksanakan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pengumpulan data, dapat dimaknai juga sebagai kegiatan peneliti dalam upaya mengumpulkan sejumlah data lapangan yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (untuk penelitian kualitatif), atau menguji hipotesis (untuk penelitian kuantitatif).
Teknik pengumpulan data sangat ditentukan oleh metodologi penelitian, apakah kuantitatif atau kualitatif. Dalam penelitian kualitatif dikenal teknik pengumpulan data: observasi, focus group discussion (FGD), wawancara mendalam (indent interview), dan studi kasus (case study). Sedangkan dalam penelitian kuantitatif dikenal teknik pengumpulan data: angket (questionnaire), wawancara, dan dokumentasi.
Beberapa teknik pengumpulan data secara umum:
1. Observasi
Nasution (1998) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Mursall (1995) menyatakan bahwa “through observation, there searcher learn about behavior and the meaning attached to those behavior” melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.
Sanafiah Faisal (1990) membedakan observasi menjadi observasi berpartisifasi(participant observastion), Observasi secara terang-terangan dan tersamar (overt observastionand covert observastion), observasi yang tak berstruktur (unstructured observation), masing-masing tipe dan jenis observasi tersebut digunakan sesuai dengan karakteristik objek materiadata penelitian.
a. Observasi Partisipatif (participant observastion).
Observasi partisipatif merupakan seperangkat strategi dalam penelitian yang tujuannyaadalah untuk mendapatkan data yang lengkap. Hal ini dilakukan dengan mengembangkan kecakapan yang dekat dan mendalam dengan satu kelompok orang dilingkungan alamiah mereka. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan sejumlah tujuan dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari objek yang sedang di telitinya.
Susan Stainback (1998), menyatakan bahwa “in participant observation, the researcher observes what people do, listen to what they say, and participates in their activities”. Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka.
Dalam observasi partisipatif terdapat beberapa kategori peran partisipan yang terjadi dilapangan penelitian kualitatif. Menurut Junker terdapat beberapa macam kategori peran partisipan dilapangan yaitu:
1) Peran serta lengkap, yaitu peran pengamat dalam hubungan ini menjadi anggota penuh dari yang diamati. Pengamat akan memperoleh informasi tentang apapun dari yang diamati, termasuk yang barang kali yang dirahasiakan.
2) Peran serta sebagai pengamat, yaitu peneliti dalam hubungan ini berperan sebagai pengamat (ply on the wall). Statusnya sebagai anggota dalam hubungan ini sebenarnya hanya sebatas pura-pura saja, sehingga tidak melebur secara fisik maupun psikis dalam pengertian yang sesungguhnya.
3) Pengamat sebagai pemeran serta, dalam hubungan ini peneliti sebagai pengamat ikut melakukan apa yang di lakukan oleh narasumber sebagai yang teramati meskipun belum sepenuhnya.
4) Pengamat penuh, dalam hubungan ini kedudukan pengamat dan yang diamatiterpisah, informasi diteruskan satu arah saja, sehingga subjek tidak merasa diamati.
b. Observasi Terus Terang atau Tersamar
Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa ciri penelitian kualitatif diantaranya adalah untuk menemukan dan mengungkap fakta yang ada di lapangan secara alamiah (natural setting). Konsekuensinya peneliti harus secara cermat dan bijaksana menerapkan teknik pengumpulan data di lapangan pada narasumber, agar benar-benar data diperolehnya bersifat alamiah. Oleh karena itu dalam observasi peneliti dalam pengumpulan data “menyatakan terus terang kepada sumber data (kepada masyarakat yang ditelitinya, bahwa peneliti sedang melakukan observasi dalam penelitian”.
Pada tipe ini semua proses yang dilakukan oleh peneliti diketahui semuanya oleh orang yang diteliti. “Tapi dalam suatu saat peneliti tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.
c. Observasi Tak Berstruktur.
Dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak terstruktur, karena fokus penelitian belum jelas. Fokus observasi akan berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. Kalaumasalah penelitian sudah jelas seperti dalam penelitian kuantitatif, maka observasi dapatdilakukan secara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi.
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan di observasi. Hal ini dikarenakan peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melaksanakan penelitian tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Selanjutnya Spradley (1980) mengatakan dalam penelitian kualitatif memiliki tahapan dan objek yang observasi. Tahapan observasi, yaitu; Observasi deskriftif, Observasi terfokus, dan Observasi terseleksi. Dan objek yang diobservasi adalah ruang (tempat), pelaku (aktor) dankegiatan (aktivitas).
2. Questioner (Kuesioner/Angket)
Questioner disebut pula angket atau self administrated questioner adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengirimkan suatu daftar pertanyaan kepada responden untuk diisi.
Berdasarkan cara menyusun petanyaan dalam teknik questioner ini dibagi menjadi dua:
a. Kuesioner terbuka (Opene and Items)
Adalah suatu kuesioner dimana pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan tidak disediakan jawaban pilihan sehingga responden dapat bebas/terbuka luas untuk menjawabnya sesuai dengan pendapat/pandangan dan pengetahuannya.
Kelebihan kuesioner terbuka adalah :
1) Menyusun pertanyaan sangat mudah
2) Memberikan kebebasan kepada responden untuk menjawab dan mencurahkan isi hatidan pemikirannya.
Kelemahan kusioner terbuka adalah :
1) Untuk peneliti sangat sulit mengolah dan mengelompokkan jawaban karena sangat bervariasinya jawaban yang diberikan oleh responden.
2) Pengolahan jawaban memakan waktu yang lama, satu dan lain hal peneliti harus membaca satu persatu.
3) Untuk peneliti mungkin menimbulkan rasa bosan karena tulisannya sulit dibaca, kalimat tidak jelas dari jawaban yang diberikan oleh responden
4) Rasa malas akan timbul pada responden yangtidak mempunyai banyak waktu luanguntuk menjawab.
b. Koesioner tertutup (Closed and Items)
Adalah suatu kuesioner dimana pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan telah disediakan jawaban pilihan, sehingga responden tinggal memilih salah satu dari jawaban yang telah disediakan.
Kelebihan kuesioner tertutup adalah :
1) Untuk peneliti, mudah mengolah jawaban yang masuk
2) Untuk peneliti, waktu yang dimanfaatkan dalam pengelompokkan jawaban menjadisingkat karena dapat memanfaatkan bantuan enumerator.
3) Untuk responden, mudah memilih jawaban
4) Untuk responden, dalam mengisi jawaban mmerlukan waktu singkat.
Kelemahan kuestioner tertutup adalah :
1) Untuk peneliti, dalam penyusunan pertanyaan perlu berhati-hati agar tidak ditafsirkanlain (berarti ganda)
2) Untuk responden, kebebasan menjawab merasa dibatasi.
3. Interview (Wawancara)
Wawancara adalah suatu tanya jawab secara tatap muka yang dilaksanakan oleh pewawancara dengan orang yang diwawancarai untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Menurut Mishler (1986:82), ia mengungkapkan tentang wawancara lapangan adalah produksi bersama peneliti dan anggota. Anggota yang peserta aktif yang wawasan, perasaan, dan kerjasama merupakan bagian penting dari proses diskusi yang mengungkapkan makna subjektif. Kehadiran pewawancara dan dari keterlibatan bagaimana dia mendengarkan, menghadiri, mendorong, menyela, digresses, memulai topik, dan berakhir tanggapan-merupakan bagian integral akun responden.
Lincoln dan Guba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1) Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan.
2) Menyimpan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan.
3) Mengawali atau membuka alur wawancara.
4) Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya.
5) Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan.
6) Mengidentifikasikan tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.
Jenis pertanyan yang dapat ditanyakan dalam wawancara adalah:
1. Pengalaman dan perbuatan responden, yaitu apa yang telah dikerjakannya atau yang lazim dikerjakannya.
2. Pendapat, pandangan, tanggapan, tafsiran atau perkiraannya tentang sesuatu.
3. Perasaan, respons emosional, apakah ia merasa cemas, takut, senang, gembira, curiga, jengkel dan sebagainya tentang sesuatu.
4. Pengetahuan, fakta-fakta, apa yang diketahuinya tentang sesuatu.
5. Penginderaan, apa yang dilihat, didengar, dirabah, dikecap atau diciumnya, diuraikan secara deskriptif.
6. Latar belakang pendidikan, pekerjaan, daerah asal, tempat tinggal, keluarga dan sebagainya.
Beberapa aspek di atas dipersiapkan agar dapat mengantisipasi kekosongan terhadapsesuatu yang hendak ditanyakan. Materi pertanyaan dapat melingkupi dimensi waktu, sepertitentang apa-apa yang dikerjakan responden di masa lampau, sekarang dan akan datang. Dan padaintinya pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan harus berpedoman pada arah penelitian atauharus sesuai dengan tujuan penelitian.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam kegiatan wawancara adalah :
a) Buku catatan, berfungsi untuk mencatat semua pembicaraan atau percakapan dengan sumber data.
b) Tape recorder, berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan. Penggunaan tape recorder dalam wawancara perlu memberi tahu kepada informan boleh atau tidak.
c) Kamera, berguna untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan pembicaraan dengan informan/sumber data. Dengan adanya foto-foto ini dapat meningkatkan keabsahan dan penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti betul-betul melakukan pengumpulan data.
4. Dokumentasi
Dokumen adalah catatan peristiwa yang telah lalu. Dokumen dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya menu mental dari seseorang lainnya. Dokumen yang berbentuk tulisan, misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, film, video, CD,DVD, cassete, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, karya lukis, patung naskah, tulisan, prasasti dan lain sebagainya.
Secara interpretatif dapat diartikan bahwa dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat merupakan catatan anekdotal, surat, buku harian dan dokumen-dokumen. Dokumen kantor termasuk lembaran internal, komunikasi bagi publik yang beragam, file siswa dan pegawai, diskripsi program dan data statistik pengajaran.
Nasution menjelaskan bahwa:” ada sumber yang non manusia (non human resources), antara lain adalah dokumen, foto dan bahan statistik.
Dokumen digunakan dalam penelitian sebagai sumber data sekunder manakala dokumentersebut memiliki nilai. Menurut Wang dan Soergel (1998), nilai kegunaan dokumen dapatdilihat dari beberapa hal sebagai berikut:
a. Evistemic value, yaitu suatu dokumen keberadaannya sangat berguna bagi pemenuhan kebutuhan akan pengetahuan atau informasi yang tidak/belum diketahui. Nilai evistemic merupakan prasyarat bagi semua dokumen.
b. Functional values, yaitu suatu dokumen yang keberadaannya sangat berguna karenamemberi konstribusi pada penelitian yang dilakukan. Dokumen akan berguna karena berisi teori, data pendukung empiris, atau metodologi.
c. Conditional values, yaitu suatu dokumen sangat berguna apabila muncul beberapa kondisi atau syarat terpenuhi, atau terdapat dokumen lain yang dapat memperkuat dokumen tersebut.
d. Social values, yaitu suatu dokumen keberadaannya sangat berguna dalam hubungan dengan kelompok atau individu. Seperti berhubungan dengan guru, tokoh
masyarakat, kiyai, ulama’, atau tokoh lainnya.
C. Penerapan Teknik Pengumpulan Data Sesuai Indikator
Cara kita dalam mengukur sebuah konsep adalah salah satu kunci utama dari penelitian. Ini akan menentukan bagaimana kita mengobservasi sebuah fenomena, apa yang harus kita cari di lapangan dan bagaimana cara memberi nilai terhadap sesuatu yag diobservasi. Proses transisi dari konsep abstrak hingga menjadi indikator-indikator yang dapat diukur ini biasa disebut dengan operationalization process.
Protokol di bawah ini akan membantumu untuk menemukan indikator yang tepat:
1. Formulasikan Hipotesis
Sebuah hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang didasarkan pada peninjauan dari penelitian-penelitian sebelumnya dan observasi objek secara langsung di lapangan. Biasanya dalam penulisan hipotesis terdapat 1 hingga 2 konsep yang dibahas. Ketika hipotesis tersebut bersifat deskriptif (atau komparatif), hanya ada satu konsep yang di bahas di dalam kalimatnya. Sementara ketika hipotesis bersifat kausal (atau asosiatif), terdapat dua konsep yang dibahas di dalamnya. Sebagai contoh:
• Pada hipotesis berikut hanya terdapat satu konsep yang dibahas yakni “kualitas hidup”: “Barcelona memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi dibandingkan
Madrid”. Pada contoh tersebut, Barcelona dan Madrid adalah kasus yang akan dianalisa, namun bukan konsep untuk diukur.
• Pada hipotesis berikut terdapat dua konsep yang akan diukur yakni “kualitas hidup” dan “konsumsi narkotika”: “Menurunnya kualitas hidup diakibatkan oleh peningkatan penggunaan narkotika di kalangan pemuda”. Pemuda dalam kasus ini adalah kasus yang akan dianalisa, bukan konsep untuk diukur.
2. Definisikan Konsepnya
Definisi dari konsep yang diteliti harus berdasarkan pada studi dan teori yang dinyatakan dalam penelitian yang sudah ada. Inilah mengapa tinjauan pustaka sangat penting untuk dilakukan pada tahap ini. Coba temukan definisi dari konsep yang dinyatakan secara eksplisit dan jelas oleh penulis sebelumnya. Jika kamu menemukan penelitian yang konsepnya didefinisikan secara tersirat, tinggalkan dan cari yang lain. Peneliti bertanggung jawab untuk memilih definisi dan teori mana saja yang akan digunakan untuk menjelaskan konsep dan apakah mereka dapat menjadi pelengkap atau memodifikasi definisi lainnya. Sangat dianjurkan agar peneliti dapat menemukan beberapa definisi (lebih dari dua atau tiga jika memungkinkan) dan menggunakan mereka untuk mengidentifikasi indikator-indikator yang sesuai dengan penelitian yang sedang dikerjakan.
Jangan lupa bahwa definisi mana yang akan digunakan peneliti harus didasarkan pada tujuan utama dari penelitian. Sebagai contoh, beberapa penulis telah mendefinisikan
“kualitas hidup” sebagai berikut:
• Kualitas hidup adalah kesejahteraan individu yang bersumber dari kepuasan atau ketidak-puasannya terhadap aspek-aspek penting dari kehidupan yang individu tersebut jalani.
• Kualitas hidup adalah evaluasi multidimensi, yang didasarkan pada kriteria interpersonal dan sosio-normatif, dari sistem personal dan sistem lingkungan individu tersebut.
• Kualitas hidup adalah total skor kondisi kehidupan dari seseorang yang diukur secara objektif yang mana tiap skornya diwakili oleh kesehatan fisik, kondisi tempat tinggal, hubungan sosial, serta kegiatan fungsional (atau biasa disebut dengan pekerjaan) dari individu tersebut.
3. Bongkar Konsepnya Kedalam Dimensi-Dimensi yang Lebih Spesifik
Pada umunya konsep abstrak (sebuah gagasan yang orang-orang dapat mengerti namun tak memiliki bentuk fisik) seperti “kualitas hidup” dapat dibongkar kedalam barmacam-macam dimensi yang sifatnya spesifik. Sebagai contoh, sebuah studi yang dilaksanakan oleh Eurostat di Uni Eropa menyatakan bahwa “kualitas hidup” seseorang dinilai berdasarkan dimensi-dimensi berikut:
• Kondisi materi / harta untuk hidup (meliputi pendapatan dan konsumsi materi)
• Kegiatan produktif atau pekerjaan
• Kesehatan
• Pendidikan
• Waktu luang dan interaksi sosial
• Keamanan fisik dan ekonomi
• Hak-hak dasar hidup
• Lingkungan alam
• Pengalaman hidup secara keseluruhan
Jumlah dimensi yang diidentifikasi dalam sebuah konsep tergantung pada ketertarikan dan rasa penasaran peneliti itu sendiri dan definisi yang digunakan. Semakin banyak dimensi yang teridentifikasi, semakin lengkap penelitian tersebut karena banyaknya aspek yang dapat dicakup dan semakin banyak pula indikator yang diperlukan. Jadi, proses untuk membongkar konsep kedalam dimensi-dimensi dilakukan dengan mempertimbangkan:
• Studi dan teori dari penelitian sebelumnya
• Pertanyaan penelitian dan hipotesis
• Dimensi yang teridentifikasi harus independen dari satu sama lain
4. Identifikasi Indikator-Indikator untuk Setiap Dimensi dari Konsep yang Diteliti Setiap dimensi harus diukur setidaknya menggunakan satu indikator. Jika peneliti dapat mengukur tiap dimensi menggunakan beberapa indikator, maka akan dihasilkan pengukuran yang lebih akurat karena indikator berperan sebagai petunjuk untuk peneliti dalam mengobservasi realitas. Contohnya, bagaimana caranya untuk mengukur “waktu luang dan interaksi sosial” sebagai salah satu dimensi dari “kualitas hidup”? Indikatorindikator yang dapat digunakan meliputi:
• Frekuensi penduduk terlibat dalam aktifitas di luar rumah yang tujuannya untuk merilekskan diri seperti pergi ke bioskop, menyaksikan pertunjukan seni secara langsung, mengunjungi situs budaya atau menonton event olah raga di lapangan secara langsung.
• Aktivitas berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.
• Aktivitas sosial yang dilakukan secara sukarela dengan tujuan untuk membantu orang lain.
• Hubungan-hubungan yang suportif, yang ditunjukkan dengan kemudahan seseorang untuk mendapatkan bantuan dan dukungan personal ketika dibutuhkan.
Hal penting lainnya untuk diperhatikan dalam mengidentifikasi indikator adalah:
• Indikator-indikator adalah karakteristik/fitur dari kenyataan yang sifatnya ringkas (concise), spesifik (specific), tepat waktu (timely), mengacu kepada konsep, dapat dibandingkan (comparable), tersedia (available), dapat diamati (observable), dapat diukur (measurable), dan dapat dihitung (quantifiable).
• Populasi dari penelitian: mengukur kualitas hidup di perkotaan tidak akan sama dengan mengukur kualitas hidup dalam lingkungan perusahaan. Indikator yang digunakan bisa jadi sama namun cara mengukurnya perlu disesuaikan. Contohnya,
“kualitas hidup pada waktu luang” dalam lingkup perkotaan dapat diukur menggunakan indikator seperti “jumlah bioskop dan teater per jumlah penduduk dalam sebuah kota”. Di sisi lain, dimensi waktu luang di tingkat perusahaan dapat diukur dengan “ketersediaan ruang-ruang untuk aktifitas rekreasi seperti ruang untuk bermain, membaca atau ngobras dalam perusahaan”.
• Pada tahap selanjutnya, indikator-indikator akan ditransformasi menjadi pertanyaanpertanyaan survei, atau pertanyaan untuk wawancara secara mendalam, atau panduan observasi untuk melaksanakan etnografi. Sebagai contoh, indikator “ketersediaan ruang-ruang untuk aktifitas rekreasi seperti ruang untuk bermain, membaca atau ngobras dalam perusahaan” dapat ditransformasi menjadi sebuah pertanyaan survei seperti:
“Di tempat kerjamu sekarang, adakah ruang yang khusus digunakan untuk kegiatan rekreasi seperti ruang untuk bermain games, membaca, atau ruang berbincang antar karyawan? 1) Iya, 2) Tidak, 3) Tidak tahu.
Keberhasilan dalam mendapatkan indikator yang tepat sangat tergantung dari kemauanmu untuk membaca, membaca dan membaca literatur yang berhubungan dengan konsep yang dibahas. Semakin banyak referensi akan membantumu memahami konsep lebih dalam yang akhirnya menghasilkan pemilihan indikator yang tepat. Mungkin ini adalah tahapan yang paling kompleks sekaligus relevan dari proses penelitian karena hasil dari penelitian akan bergantung pada bagaimana fenomena dan konsep diukur dan diamati. Setelah indikator teridentifikasi, tahapan berikutnya adalah mendesain instrumen pengumpulan data (contohnya survei) atau menggunakan sumber sekunder (contohnya database online) untuk mengumpulkan data.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas, penulis memiliki beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut:
1. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian teknik pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data.
2. Teknik-teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, questioner, wawancara dan dokumentasi.
3. Penerapan teknik pengumpulan sesuai Indikator yang tepat sangat tergantung dari kemauanmu untuk membaca, membaca dan membaca literatur yang berhubungan dengan konsep yang dibahas. Semakin banyak referensi akan membantumu memahami konsep lebih dalam yang akhirnya menghasilkan pemilihan indikator yang tepat.
B. Saran
Hendaknya makalah ini dapat dijadikan salah satu sumber pembelajaran bagi pembaca. Dan makalah ini bisa bermanfaat bagi banyak pihak, utamanya bagi penulis dan pembaca.
Daftar Pustaka
Hadjar, Ibnu. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Heriyanto, Albertus dan Sandjaja. Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Kaelan, M.S. 2010. Teknik Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner. Yokyakarta:
Paradigma.
Satori, Djam’an dan Aan Komariah. 2009. Tekniklogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Teknik Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfa Beta.
Sukandarrumidi. 2006. Teknik Penelitian Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula Cet. 3.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Suryabrata, Sumadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta : Raja Grafindo.
Komentar
Posting Komentar