MAKALAH MERENCANAKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN ANAK
MAKALAH
PROSEDUR TANGGAP DARURAT : MERENCANAKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN ANAK
DOSEN PENGAMPU:
MARDIAH, M. Pd
Disusun oleh:
Kelompok 3
MATA KULIAH : KESEHATAN, KESELAMATAN, NUTRISI ANAK
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL WASHLIYAH
KOTA BINJAI
2023
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur atas kehadirat Allah Swt, yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada seluruh umat manusia, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang membawa kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang ini yakni dengan agama islam.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan pengarahan yang sangat berarti bagi penyusun makalah ini.
Selanjutnya ucapan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu hingga terselesaikannya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya serta dapat menambah ilmu pengetahuan dan pemahaman pada pembahasan makalah ini, aamiin.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah ini.
Demikianlah makalah ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.
Binjai, November 2023
Penulis
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN................................................................................................. i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 1
B.Rumusan Masalah................................................................................................ 1
C. Tujuan................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.................................................... 2
B. Peningkatan Kemampuan Guru dan Membina Kesehatan Anak....................... 3
C. Dasar-Dasar Keselamatan Anak......................................................................... 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan kesehatan sangat penting diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Pendidikan kesehatan yang diberikan sejak dini akan membiasakan anak untuk hidup sehat sejak dini sehingga pada akhirnya akan tumbuh menjadi sehat, cerdas, dan ceria. Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada anak dimulai dari lingkungan keluarga sebab keluarga merupakan tempat pertama anak belajar dan menimba ilmu. Keluarga dikatakan sebagai tempat yang pertama belajar anak karena lingkungan keluarga yang pertama dikenal anak adalah lingkungan keluarga.
Dalam lingkungan keluarga, anak dapat belajar dari mencontoh segala tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa yang ada dirumah. Sedangkan sekolah sebagai tempat anak belajar dan menimba ilmu sebaiknya memberikan pelajaran hidup sehat mulai dari yang paling sederhana sampai bagaimana menjaga dari segala penyakit.
Untuk menjaga kesehatan dapat dimulai dari membiasakan hidup bersih dan pola hidup sehat mulai dari mengkonsumsi makanan yang mungkin dapat menyebarkan bibit-bibit penyakit.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, terdapat beberapa rumusan masalah yang erat kaitannya dengan Pendidikan Kesehatan, yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ?
2. Bagaimana Peningkatan Kemampuan Guru dan Membina Kesehatan Anak ?
3. Bagaimana Dasar - Dasar Keselamatan Anak?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini, adalah sebagai berikut:
1. Memahami Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
2. Memahami Peningkatan Kemampuan Guru dan Membina Kesehatan Anak.
3. Mengetahui Bagaimana Dasar - Dasar Keselamatan Anak
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Lingkungan kehidupan seorang anak TK adalah disekolah, rumah, dan sekitarnya, serta sesekali pergi bersama keluarga ke tempat lain. Lingkungan sekolah adalah sekolah beserta segala isinya serta halaman maupun sekelilingnya. Lingkungan dapat berupa fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik merupakan lingkungan tempat dimana anak itu tinggal dan berinteraksi, sedangkan lingkungan sosial adalah lingkungan pergaulan dan interaksi anak.
Disekolah anak belajar kesehatan dan kebersihan dari guru dan teman sekolahnya, sedangkan di rumah anak belajar dari orang tua, kakak maupun pengasuhnya. Pembentukan perilaku hidup sehat dan bersih dari seorang anak harus dilakukan dirumah, sekolah,maupun lingkungan sekitarnya.
Pada dasarnya anak usia dini suka meniru dan mencontoh segala tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa maupun tokoh yang diidolakan sehingga memberikan dan mengondisikan untuk hidup sehat dan bersih itu penting. Hal lain yang perlu diajarkan adalah menjaga diri dari bahaya yang mungkin muncul sebagai akibat kontak langsung dengan lingkungan.
Kondisi seorang anak TK memiliki beberapa kelemahan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Seorang anak TK masih belajar mengenal berbagai benda yang ada, bentuk maupun fungsinya. Anak usia dini tidak hanya dijaga dari berbagai bahaya yang mungkin muncul, tetapi perlu diberi pengertian tentang bahaya suatu benda dan bagaimana menjaga diri dari lingkungan yang berbahaya.
Semakin bertambah usia seorang anak, biasanya akan semakin berkurang penjagaan terhadap diri anak oleh orang tuanya. Seorang anak TK semakin banyak mengalami kontak langsung dengan berbagai benda di lingkungan kehidupannya sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Kemungkinan besar bisa mendatangkan kecelakaan atau bahaya bagi keselamatan seorang anak, kecuali benda, keadaan atau situasi juga dapat membahayakan, misalnya jalanan yang terlalu ramai, cuaca yang kurang baik maupun tempat-tempat, seperti kolam renang dan sungai.
Penjagaan keselamatan anak termasuk dalam penjagaan kesejahteraan anak yang di bahas dalam Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Dalam Bab I Pasal I Undang-undang ini, dinyatakan bahwa kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani, maupun sosial. Sedangkan Bab II tentang Hak Anak khususnya Pasal 2 yang menyatakan bahwa anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar. Sedangkan Pasal 3 UU RI No 4 Tahun 1979 menyatakan bahwa dalam keadaan membahayakan, anaklah yang pertama-tama berhak mendapat pertolongan, bantuan, dan perlindungan.
B. Peningkatan Kemampuan Guru dan Membina Kesehatan Anak
Kemampuan dan pengetahuan guru tentang pembinaan kesehatan akan menentukan keberhasilannya dalam mengajarkan hidup sehat kepada anak. Pembinaan guru yang sebaiknya dikuasai mengenai pembinaan hidup sehat dimulai dari kesehatan anak secara tepat, sebab masing-masing anak memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan tahap perkembangannya.
a. Pembinaan Perkembangan Anak
Bertujuan membantu anak agar dapat mencapai tingkat perkembangan yang sesuai dengan seharusnya. Kegiatan ini tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemantauan perkembangan seperti halnya pembinaan makanan yang cukup dan bergizi sesuai kebutuhan, tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemantauan pertumbuhan (fisik).
Kegiatan pembinaan perkembangan ini juga dilakukan terhadap 4 aspek perkembangan anak (kemampuan gerak kasar, gerak halus, berbicara, bahasa, kecerdasan bergaul, dan mandiri). Prinsip-prinsip pembinaan yang tercantum dalam Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita (Depkes 1993) adalah sebagai berikut :
1) Lakukan sebagai rasa cinta kasih sayang, yaitu orang tua atau anggota keluarga bermain dengan anak sambil menikmati kegembiraan bersama.
2) Lakukan secara bertahap dan berkelanjutan mencakup keempat aspek perkembangan.
3) Mulailah dengan tahap perkembangan yang telah dicapai anak.
4) Lakukan dengan wajar, secara khusus atau disisipkan dalam kegiatan sehari-hari, tanpa paksaan atau hukuman apabila anak tidak mau atau tidak melakukannya.
5) Berikan pujian kepada anak atas keberhasilannya.
6) Gunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana dan mudah diperoleh, misalnya mainan yang dibuat bersama anak berasal dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitarnya.
7) Buatlah suasana yang segar, menyenangkan, dan bervariasi agar tidak membosankan.
b. Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Tumbuh Kembang
Seorang guru TK dapat melakukan beberapa kegiatan, yaitu sebagai berikut:
1) Menanamkan kebiasaan hidup, bermain, belajar, dan hidup sehat.
2) Memeriksa, mengawasi, memelihara kesehatan, dan perkembangan anak didik.
3) Memantau perkembangan anak secara teratur dan memberikan stimulasi perkembangan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik.
Tanda-tanda, proses, dan aspek tumbuh kembang anak ada empat tes skrining yang digunakan (berat badan, lingkar kepala, skrining perkembangan, perilaku anak, tes daya ingat, dan tes daya dengar). Diantara tes tersebut adalah sebaga berikut :
1. Pengukuran Berat Badan menurut Tinggi Badan
2. Pengukuran Lingkar Kepala Anak (KPA)
Dilakukan untuk mengetahui perkembangan otak anak karena biasanya besar tengkorak mengikuti perkembangan otak. Oleh karena itu, apabila ada hambatan pada perkembangan tengkorak maka perkembangan otak juga terhambat.
Pengukuran lingkar kepala dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a) Alat pengukur, yaitu tali ukuran atau alat lain yang dapat menunjukkan ukuran-ukuran panjang, dilingkarkan pada kepala anak melewati dahi, menutupi alis mata, dan bagian belakang kepala yang menonjol.
b) Catatlah hasil pengukuran pada grafik lingkaran kepala menurut jenis kelamin anak pada kartu data tumbuh kembang anak.
c) Penilaiannya adalah:
Apabila ukuran lingkar kepala anak berada di antara garis putus-putus atau di luar jalur berwarna hijau pada kartu data tumbuh kembang anak maka ukuran lingkar kepala anak tergolong normal. Apabila ukuran lingkar kepala anak berada diatas garis putus-putus ataupun dibawah garis putus-putus bawah atau di luar jalur berwarna hijau pada kartu data tumbuh kembang anak maka kepala anak tidak normal dan perlu diperiksa lebih lanjut oleh yang berwenang.
3. Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP)
Kuesioner merupakan suatu daftar pertanyaan singkat yang ditunjukkan kepada orang tua dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan skrining pendahuluan perkembangan anak sampai usia 6 tahun. Kegunaannya adalah untuk mengetahui ada atau tidak adanya hambatan dalam perkembangan anak.
4. Kuesioner Perilaku Anak Pra-Sekolah (KPAP)
Merupakan sekumpulan kondisi-kondisi perilaku yang digunakan sebagai alat untuk mendeteksi secara dini kelainan-kelainan perilaku anak pra-sekolah sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan.
5. Tes Daya Lihat dan Tes Kesehatan Mata Anak
Merupakan alat untuk memeriksa ketajaman daya ingat serta kelainan mata pada golongan umur tersebut. Tes daya ingat dilakukan dengan menunjukkan huruf tertentu kepada anak yang harus dicocokkan dengan huruf pada suatu gambar (chart) yang mengandung berbagai ukuran huruf tersebut.
Tes Kesehatan Mata (TKM) dilakukan dengan memeriksa mata atas beberapa kelainan, keluhan dan perilaku anak. Misalnya, keluhan mata gatal, panas, penglihatan kurang baik, sakit kepala, dll.
6. Tes Daya Dengar
Dimaksudkan untuk mengetahui secara dini gangguan daya dengar anak sehingga berbagai cara dapat dikerjakan untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan meningkatkan kemampuan berbicara pada anak.
c. Cara Penilaian Perkembangan Anak
Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk melakukan penilaian perkembangan anak, yaitu sebagai berikut :
1) Observasi
Dilakukan untuk memperoleh data-data tentang seseorang melalui pengamatan. Menurut sifatnya metode pengumpulan data ini dapat dibagi atas:
a) Observasi naturalistik
Dilakukan untuk menangkap gejala-gejala/tingkah laku manusia yang terjadi spontan sehari-hari sebagaimana adanya. Observasi dilakukan secara sistematis ataupun tidak sistematis.
b) Observasi terkontrol
Pada metode ini, observasi dengan aktif mempengaruhi terbentuknya suatu kejadian atau tingkah laku yang akan atau sedang diobservasinya. Tingkah laku ini dibangkitkan, diperkuat atau diperlemah. Observasi dilakukan secara sistematis.
2) Anamnesa
Salah satu cara mengumpulkan data tentang seseorang yaitu secara langsung diperoleh dari orang yang bersangkutan disebut Autoanamnesa, atau dari orang yang mengetahui banyak tentang orang yang akan dicatat datanya disebut Alloanemnesa. Dapat diperoleh gambaran mengenai perkembangan seseorang, antara lain faktor herediter (keturunan), fisik, kesehatan mental, pengaruh lingkungan, faktor ekonomi dan kebudayaan, kepribadian diluar maupun dalam rumah.
3) Tes-tes psikologis
Dapat diperoleh data tentang diri seorang anak, melalui tes perkembangan, tes intelegensi, tes kemampuan koordinasi visual, motorik, tes proyeksi untuk melihat gambaran kepribadian seorang anak dari segi emosi mapun segi social.
C. Dasar-dasar Keselamatan Anak
Keluarga adalah lingkaran terdekat yang mempengaruhi kita dalam proses berpikir dan bertindak sehari-hari. Dalam keluarga anak menjadi tumpuan harapan, begitu pula menjadi tumpuan bangsa , untuk itu anak harus kita jaga dan perhatikan sebaik-baiknya.
Dalam UU no 35 tahun 2014 Tentang Perubahan UU Perlindungan Anak definisi anak adalah “Seseorang yang belum berusia 18 tahun , termasuk yang masih dalam kandungan”.
Dan definisi Perlindungan Anak adalah “Segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh , berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
Orangtua pasti memperhatikan dan mempelajari hal-hal yang dapat menunjang perkembangan seorang anak mulai dari kesehatan fisik dan psikologisnya, pendidikannya, tumbuh kembang, mental dan akhlaknya, dan tentunya pendidikannya. Namun kadang kita melupakan satu hal penting yaitu keselamatannya. Padahal keselamatan adalah hal yang selalu melekat sehari-hari dalam kehidupan kita. Jika kita sekejap abai dengan keselamatannya dapat terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dalam hitungan detik. Sebagai perbandingan jika kita lalai dalam pendidikan anak maka efeknya akan terasa dalam jangka menengah dan panjang (bodoh, tidak punya sertifikat kelulusan dsb) namun jika kita lalai dalam keselamatan anak, misalnya anak tidak kita pakaikan carseat dalam mobil, maka saat terjadi kecelakaan efeknya langsung terasa saat itu juga (luka, cacat, kematian).
Jadi keselamatan itu seharusnya lebih berorientasi prosesnya bukan pada hasil semata. Karena sekeras apapun kita berusaha pasti ada faktor eksternal yang masih dapat menyebabkan kejadian buruk. Misalnya kita sudah sewaspada mungkin dalam mengendarai sepeda motor namun tetap ada pemakai jalan lain yang sembrono atau kondisi jalan yang rusak. Hal ini yang dikenal masyarakat sebagai ‘takdir’ atau ‘nasib’ yang tidak dapat kita kendalikan. Inilah mengapa ada orang yang mempunyai perilaku permisif dan pengabaian terhadap keselamatan karena orang tersebut menilai apapun yang kita lakukan adalah sia-sia toh kecelakaan masih dapat terjadi karena memang sudah digariskan. Hasil dari suatu usaha bukanlah domain kita, tugas kita hanya fokus untuk melakukan segala usaha-usaha tadi dengan baik, benar dan konsisten.
Untuk itu orang dewasa harus mempelajari dan mengetahui tentang pengenalan bahaya dan reduksi risiko yang mungkin dapat dialami oleh anak dan keluarga.
Menurut teori hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow, kebutuhan akan rasa selamat dan aman (safety & security needs) menempati tingkat kedua setelah kebutuhan fisiologis (Physiologial needs).
Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan keselamatan sebenarnya adalah termasuk kebutuhan dasar (basic needs) manusia. Dan kebutuhan ini akan selalu ada selama manusia hidup. Namun seiring waktu manusia dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan pendidikan sehingga mempunyai sistem keyakinan (believe system) yang berbeda-beda termasuk dalam memaknai keselamatan.
Bahaya & Risiko
Terkadang kita masih suka terbalik dan salah dalam mengartikan dan memaknainya. Terjatuh, tertabrak, terpeleset, air tumpah, tersayat, lubang di jalanan, mobil bergerak , api dan kebakaran; apakah itu termasuk bahaya atau risiko?
Yuk kita bahas secara singkat dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Apakah itu bahaya? Bahaya adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan kerugian (harm) baik cidera pada manusia, kerusakan material maupun pengaruh terhadap lingkungan.
Contoh bahaya misalnya api, pohon, kompor menyala, pintu,mobil dengan kecepatan kencang, pisau tajam, air tergenang, lubang di jalanan, sinar matahari dll.
Lalu apa yang disebut risiko?
Risiko adalah hasil atau akibat dari bahaya yang terpapar kepada kita.
Contohnya adalah kebakaran, terjatuh dari pohon, jari terjepit pintu, tersedak, tertabrak mobil, kepleset, tersayat pisau, dll.
Dan risiko ada nilainya yaitu risiko ringan, sedang dan berat. Jadi hasil paparan dari suatu bahaya mempunyai risiko yang berbeda. Misalnya anak terjatuh dari pohon, mempunyai risiko mulai dari anak hanya lecet (risiko ringan), anak luka terbuka berdarah (risiko sedang) sampai ke risiko berat yaitu patah tulang, cacat permanen atau kematian.
Jadi suatu pernyataan yang lengkap misalnya:
- Bahaya api risikonya kebakaran
- Tidak menggunakan carseat dalam mobil sangat berbahaya, risikonya anak dapat terlempar saat mobil mengalami benturan atau pengereman mendadak.
- Bahaya matahari risikonya adalah terbakar (sun burn)
- Risiko dari ayunan rusak adalah anak dapat terjatuh
- Pisau tajam itu berbahaya, risikonya adalah anak bisa tersayat.
Yuk kita telaah sebuah analogi yang kita sebut saja cerita ‘emak naik motor’:
Seorang ibu mengendarai sepeda motor untuk mengantar jemput anaknya setiap hari. Tiba-tiba di jalan yang biasa dilewatinya terdapat lubang. Nah lubang tersebut merupakan bahaya, bukan risiko. Jika ibu tersebut melewati lubang tersebut maka risikonya adalah :
- Risiko ringan : motor hanya oleng kehilangan keseimbangan, ibu kaget
- Risiko sedang : terjatuh dan lecet, luka berdarah, motor rusak, terjerembab ke tanah
- Risiko tinggi : kepala terantuk trotoar, patah tulang, kematian
Setelah mengetahui bahayanya lalu apa yang harus dilakukan orangtua? Kebanyakan menjawab : menghilangkan bahaya atau menjauhkan bahaya dari anak-anak kita.
Itu jawaban yang kurang tepat. Tidak sepatutnya kita menghilangkan bahaya. Jika itu yang kita fokuskan maka kita akan menjadi orangtua yang posesif, overprotective, lebay, negative attitude dan kita akan cepat lelah. Parents jaman now harus lebih fokus pada mengurangi risikonya bukan pada menghilangkan bahayanya. Karena bahaya akan selalu ada selama manusia beraktivitas.
Studi kasus: Mengajak anak berenang. Kita tahu ada bahaya dan risiko apa saja yang ada. Jika kita bermaksud menghilangkan bahaya maka gampang saja: kita batalkan mengajak anak berenang. Anak kita akan aman dan selamat. Namun dengan begitu anak tidak dapat memenuhi kebutuhannya, mengembangkan hobinya, mempraktekkan skill nya dan yang terpenting ia gagal bermain dan bersenang-senang. Yang harus kita lakukan adalah mengetahui bahayanya dan mengurangi risikonya. Dalam hal berenang, cara mengurangi risiko paling balik adalah (1) ajari anak berenang dan (2) selalu dalam pengawasan orangtua.
Kembali pada analogi emak naik motor tadi. Kita janganlah fokus pada menghilangkan lubang di jalan, karena itu bukanlah tugas kita. Itu tugas pihak lain yang lebih berwenang. Tugas kita adalah mengurangi risikonya misalnya dengan cara mencari jalan lain, memakai helm atau menggunakan moda kendaraan lain.
Salah satu pesan kuncinya adalah perhatikan anak anda setiap saat karena anak tidak mengerti adanya bahaya. Pernyataan ini adalah bukti bahwa pengawasan melekat adalah kunci dari mencegah cidera (unintentional injury) terhadap anak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perilaku hidup sehat seorang anak terbentuk dari lingkungan sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. Kondisi seorang anak TK memiliki beberapa kelemahan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Seorang anak TK masih belajar mengenal berbagai benda yang ada, bentuk maupun fungsinya. Anak perlu diberi tahu mengenai bahaya yang ada dan cara menjaga keselamatan dirinya, disamping di awasi dan dijaga. Hak-hak anak dinyatakan dalam Bab II, Pasal 2 UU RI No 4 Tahun 1979 yang menyatakan bahwa anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembanganmua demgan wajar.
Kegiatan perkembangan dilakukan terhadap 4 aspek perkembangan anak (kemampuan gerak kasar, gerak halus, berbicara, bahasa, kecerdasan, bergaul, dan mandiri). Ada 6 tes skrining yang digunakan (berat badan, lingkar kepala, skrining perkembangan, perilaku anak, tes daya ingat, dan tes daya dengar).
Salah satu alat ukur tes skrining yang digunakan adalah kuesioner yang berupa suatu daftar pertanyaan singkat yang ditunjukkan kepada orang tua dan digunakan sebagai alat untuk melakukan skrining pendahuluan perkembangan anak sampai usia 6 tahun. Kuesioner ini adalah sekumpulan kondisi-kondisi perilaku yang digunakan sebagai alat untuk mendeteksi secara dini kelainan-kelainan perilaku anak pra-sekolah. Tes daya lihat dan tes kesehatan mata anak adalah alat untuk memeriksa ketajaman daya ingat serta kelainan mata pada golongan umur tersebut. Tes kesehatan mata (TKM) dilakukan dengan memeriksa mata atas beberapa kelainan, keluhan, dan perilaku anak. Tes daya dengar ini dimaksud untuk mengetahui secara dini gangguan pada daya dengar anak.
DAFTAR PUSTAKA
Sandy, W. (2012). Tingkat pengetahuan tentang keselamatan pada siswa sekolah dasar.& nbsp;Skripsi. Depok: Universitas Indonesia.
Sari, S. A., & Khatimah, K. (2015). The application of school watching method to increase the earthquake disaster preparedness of primary school students MIN Blang Mancung, Aceh. Journal of Education and Learning, 9(3), 241-245. doi: http://dx.doi.org/10.11591/edulearn.v9i3.2301
Sumargi, A.M., dkk. (2005). Apa yang diketahui anakanak sekolah dasar tentang keselamatan dirinya: Studi pendahuluan tentang pemahaman akan keselamatan diri. INSAN Media Psikologi, 7(3), 226-249. http://journal.unair.ac.id/INSAN@apa-yang-diketahui-anakanak-sekolah-dasar-tentang keselamatandirinya-article-1167-edia-8-category-10.html
Sumargi, A.M., & Simanjuntak, E. (2010). Pemahaman dan sikap orang tua pada keselamatan diri anak-anak usia dini. Temu Ilmiah Nasional IPPI, IPS & Fakultas Psikologi UNAIR. 
Komentar
Posting Komentar