MAKALAH PRAKTIKUM DAKWAH TAUSIAH TENTANG PERNIKAHAN

 

MAKALAH

PRAKTIKUM DAKWAH

TAUSIAH TENTANG PERNIKAHAN

 

Dosen Pengampu :

H. Zainal Abidin, Lc.,MA.

 

 

 

 

 

 

OLEH:

IBNU KHAIR

 

 

 

PROGRAM STUDI PGMI

 

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AR-RAUDHAH

TAHUN AJARAN 2023/2024

 

 

 


Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya.

Selawat beriringan salam tetap kita limpahkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang membawa kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang ini yakni agama islam.

Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada ibu Athiqoh Hanum, M.Pd. selaku dosen pengampu yang telah memberikan pengarahan dan pengajaran yang sangat berarti bagi kami penulis tugas makalah ini.

Penulis mengharapkan saran dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan makalah ndividu ini. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah individu ini. Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak dan dosen pengampu yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir, semoga kiranya Allah Swt. senantiasa meridhoi.

Demikianlah makalah individu ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Demikianlah tugas makalah ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Binjai, 26 September 2023

 

 

 

Penulis

 

 

 

Daftar Isi

Kata Pengantar................................................................................................................... i

Daftar Isi............................................................................................................................. ii

BAB I Pendahuluan............................................................................................................. 1

BAB II Pembahasan............................................................................................................ 2

A.     Pengertian, klasifikasi, penyebab dan cara pencegahan terjadinya tuna netra  ......... 2

B.     Karakteristik anak tuna netra ................................................................................... 8

C.     Kebutuhan dan layanan pendidikan bagi anak tuna netra  ....................................... 9

BAB III Penutup................................................................................................................. 11

A.     Kesimpulan.............................................................................................................. 11

B.     Saran........................................................................................................................ 11

Daftar Pustaka.................................................................................................................... 12

                                                 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, namun dibalik kesempurnaan itu terdapat beberapa orang yang memiliki keterbatasan. Seiring dengan perkembangan zaman anak-anak yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dalam segi fisik maupun mental telah mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Terbukti dengan dikeluarkannya Undang-Undang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) termasuk di Indonesia, pada tahun 2003 diatur dalam Undang-undang Nomor 20 tentang Satuan Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 Ayat 2. Melalui undang-undang yang berlaku di Indonesia, anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dari segi fisik maupun mental dapat melalui pelayanan pendidikan yang disesuaikan atau khusus. Seperti halnya salah satu kelainan fisik yang diderita oleh anak berkebutuhan khusus yaitu anak yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra).

B.     Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian, klasifikasi, penyebab dan cara pencegahan terjadinya tunanetra ?

2.    Bagaimana karakteristik anak tuna netra ?

3.    Bagaimana kebutuhan dan layanan pendidikan tunanetra?

C.    Tujuan

1.    Mengetahui pengertian, klasifikasi, penyebab dan cara pencegahan terjadinya tunanetra

2.     Mengetahui karakteristik anak tunanetra

3.    Mengetahui kebutuhan dan layanan pendidikan bagi anak tunanetra

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Pengertian, Klasifikasi, Penyebab dan Cara Pencegahan Terjadinya Tunanetra

1. Pengertian Tunanetra

Kamus lengkap bahasa Indonesia memaparkan “Tunanetra berasal dari 2 kata, yaitu tuna dan netra, tuna berarti tidak memiliki, tidak punya, luka atau rusak, sedangkan netra berarti penglihatan sehingga tunanetra berarti tidak memiliki atau rusak penglihatan.”

 Tunanetra digunakan untuk menggambarkan tingkatan kerusakan atau gangguan penglihatan yang berat sampai pada yang sangat berat, yang dikelompokan secara umum mencakup buta dan kurang lihat. Jadi, tunanetra tidak hanya mereka yang buta saja melainkan mereka yang mampu melihat tetapi penglihatannya sangat kurang dan terbatas sekali sehingga tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajarannya halnya orang awas biasa. Dalam hal ini adalah kedua-duanya (indra penglihatanya) tidak dapat berfungsi dengan baik.

 Secara pengertian, mereka yang mengalami kerusakan indra penglihatannya tergolong tunanetra. Akan tetapi, individu yang disebut sebagai tunanetra dalam hal ini ialah mereka yang tak mampu atau tidak dapat memanfaatkan indra penglihatannya secara optimal untuk kegiatan pembelajaran, sehingga perlu penanganan atau layanan yang khusus (berkebutuhan khusus).

 

 

 

2. Klasifikasi Tunanetra

Klasifikasi tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut :

v   Tingkat ketajaman penglihatan.

6/6-6/16 atau 20/20-20/50.

6/20-6/60 atau 20/70-20/200.

6/60 lebih atau 20/200 lebih.

v  Berdasarkan waktu terjadinya kecacatan.

1)      Tunanetra sebelum dan sejak lahir : yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.

2)      Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil : mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.

3)      Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja : mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses-proses angan pribadi.

4)      Tunanetra pada usia dewasa : pada umumnya mereka yang dengan segala keadaan mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.

5)      Tunanetra dalam usia lanjut : sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri.

v  Berdasarkan kemampuan daya penglihatan

1.      Tunanetra ringan (Defective Vision) : yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.

2.      Tunanetra setengah berat (Partially Sighted) : yakni mereka kehilangan daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau membaca tulisan.

3.      Tunanetra berat (Totally blind) : yakni mereka yang sama sekali tidak bisa melihat.

v  Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata

1.      Miopi: adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas kalau objek didekatkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita miopi digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif.

2.      Hiperopia: adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek dijauhkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita hiperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa positif.

3.      Astigmatisme: adalah penyimpangan atau penglihatan kabur karena ketidakberesan pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus pada retina. Untuk membantu penglihatan pada penderita astigmatisme digunakan kacamata koreksi dengan lensa silindris.

3. Penyebab Tunanetra

a.       Pre-natal.

Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan, antara lain:

·         Keturunan

Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau mempunyai orang tua yang tunanetra. Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan ini dapat dilihat dari sifat-sifat keturunan yang mempunyai hubungan atau silsilah dan hubungan sedarah. Hubungan sedarah tersebut memperbesar kemungkinan lahirnya seorang anak tunanetra atau anak luar biasa dari jenis lain. Ketunanetraan juga dapat terjadi dari perkawinan antara sesama tunanetra atau yang mempunyai orang tua atau nenek moyang yang menderita tunanetra. Anak tunanetra yang lahir akibat faktor keturunan memperlihatkan ciri-ciri yaitu bola mata yang normal, tetapi tidak dapat menerima persepsi sinar atau cahaya.

·         Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan

Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhan dalam kandungan dapat disebabkan oleh:

1)      Gangguan waktu ibu hamil

2)      Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan

3)      Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang

4)      Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indra penglihatan atau pada bola mata itu sendiri

5)      Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan

b. Post-natal

Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal yang dapat terjadi sejak atau setelah bayi lahir antara lain:

·         Kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras

·         Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhea, sehingga basil gonorohi menular pada bayi, yang pada akhirnya setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilangnya daya penglihatan

·         Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, misalnya:

1)      Xeropthalmia: yakni penyakit mata karena kekurangan vitamin A

2)      Trachoma: yaitu penyakit mata virus chilimidezoon trachomanis

3)      Catarac: ya itu penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa mata menjadi keruh, akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih

4)      Glaucoma: ya itu penyakit mata karena bertambahnya cairan dalam bola mata, sehingga tekanan pada bola mata meningkat

5)      Diabetik retinopathy: adalah gangguan pada retina yang disebabkan karena diabetes. Retina penuh dengan pembuluh-pembuluh darah dan dapat dipengaruhi oleh kerusakan sistem sirkulasi hingga merusak penglihatan.

6)      Macular degeneration: adalah kondisi umum yang agak baik, di mana daerah Tengah dari retina secara berangsur memburuk. Anak dengan retina degenerasi masih memiliki penglihatan perifer akan tetapi kehilangan kemampuan untuk melihat secara jelas objek-objek di bagian tengah bidang penglihatan

7)      Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti masuknya benda keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya, kecelakaan dari kendaraan dan lainnya.

4. Cara Pencegahan Terjadinya Tunanetra

·         Secara medis

Salah satu cara pencegahan secara medis adalah dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pemberian gizi pada mata yaitu vitamin A dengan memakan makanan seperti:

1)      Sayur-sayuran hijau (daun ubi kayu, daun bayam, daun kacang panjang, dan lainnya)

2)      Buah-buahan berwarna (pepaya, pisang dan lainnya)

3)      Minyak kelapa sawit merah

·         Secara sosial

Ditinjau dari segi sosial, usaha pencegahan ketunanetraan tidak terlepas dari:

1)      Peranan Pusat Kesehatan Masyarakat yang beroperasi di tingkat kecamatan. Sebagai instansi pemerintahan dalam bidang kesehatan, tidak hanya melayani masyarakat umum tetapi juga turut bertanggung jawab atas kesehatan anak-anak sekolah melalui Unit Kesehatan Sekolah. Melalui kerjasama dengan UKS dapat dilakukan pengamatan dan penelitian terhadap penglihatan, pendengaran dan lain-lain.

2)      Peranan RT/RW, selaku lembaga masyarakat lingkungan yang berkewajiban menyelenggarakan keamanan dan kesejahteraan lingkungan, maka sangat penting untuk melaksanakan pemelihara lingkungan terutama masalah pembuangan sampah, saluran pembuangan air dan sebagainya yang menjadi sumber penyebaran penyakit

·         Secara edukatif

1)      Peranan keluarga dalam pencegahan ketunanetraan sangat penting. Peranan tersebut terutama ditampilkan dalam perbaikan makanan yang dikonsumsi dan membiasakan diri hidup sehat.

2)      Peranan sekolah dalam pencegahan ketunanetraan sangat penting karena sekolah merupakan wahana individu dalam memperoleh pendidikan. Usaha-usaha pencegahan ketunanetraan melalui sarana sarana seperti:

¨      Mengarahkan anak mengetahui dan memahami betapa pentingnya suasana rumah tangga dan yang lingkungan yang sehat untuk pencegahan ketunanetraan.

¨      Agar usaha pemahaman terhadap suasana kesejahtera dapat tercapai, anak-anak sendiri harus mampu mengadakannya, untuk itu anak-anak harus terampil melakukan pola hidup sehat seperti berolahraga teratur, makan makanan bergizi dan lainnya.

¨      Setelah anak paham terhadap pentingnya suasana sejahtera bagi dirinya sendiri serta terampil pula melaksanakan kegiatan yang bersangkut paut dengan suasana sejahtera, sekolah mampu menciptakan kondisi agar anak memiliki sikap hidup sehat dan terampil menolong diri sendiri dan orang lain

 

B. Karakteristik Anak Tunanetra

a. Aspek fisik dan sensorik

Secara fisik, akan mudah ditentukan bahwa orang tersebut mengalami tunanetra. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi matanya dan sikap tubuhnya yang agak kaku. Pada umumnya kondisi mata tunanetra dapat dengan jelas dibedakan dengan mata orang awas. Mata orang tunanetra ada yang terlihat putih semua, tidak ada bola matanya atau bola matanya agak menonjol keluar. Namun ada juga yang secara anatomis matanya, seperti orang awas sehingga kadang-kadang kita ragu kalau dia itu seorang tunanetra, tetapi kalau ia sudah bergerak atau berjalan akan tampak bahwa ia tunanetra.

b. Aspek Motorik/Perilaku

                Ditinjau dari aspek motorik/perilaku anak tunanetra menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

1) Gerakannya agak kaku dan kurang fleksibel. Oleh karena keterbatasan penglihatannya anak tunanetra tidak bebas bergerak, seperti halnya anak awas. Dalam melakukan aktivitas motorik, seperti jalan, berlari atau melompat, cenderung menampakkan gerakan yang kaku dan kurang fleksibel.

2) Perilaku stereotipee (stereotypic behavior). Sebagian anak tunanetra ada yang suka mengulang-ngulang gerakan tertentu, seperti mengedip-ngedipkan atau menggosok-gosok matanya. Perilaku seperti itu disebut perilaku stereotipee (stereotypic behavior). Perilaku stereotipe lainnya adalah menepuk-nepuk tangan.

C. Kebutuhan dan Layanan Pendidikan bagi Anak Tunanetra

Pada hakikatnya perkembangan apapun mengenai anak tunanetra sangat bergantung pada orang yang menanganinya. Jika anak tunanetra didukung dan dipercaya untukmelakukan kegiatan yang positif maka perkembangannya pun akan bermakna.

Sebagai orang terdekat, orang tua dan keluarga sangat berperan dalam perkembangan segala aspek anak tunanetra sehingga dianjurkan bahkan diharuskan pihak-pihak ini memberi motivasi,  terus secara berkelanjutan memberi semangat dan memberikan input yang dapat menimbulkan perkembangan positif bagi anak tunanetra termasuk perkembangan kepribadian sehingga anak tunanetra dapat menyadari,  mengenali dan memiliki konsep diri.

Terdapat empat prinsip dalam pembelajaran bagi anak tunanetra bila dibandingkan anak awas pada umumnya. Yaitu:

 Pertama: melakukan duplikasi, artinya mengambil seluruh materi dan strategi pembelajaran pada anak awas ke dalam pembelajaran pada anak tunanetra tanpa melakukan perubahan, penambahan, dan pengurangan apa pun.

Kedua: melakukan modifikasi terhadap materi, media dan strategi pembelajaran yaitu sebagian atau keseluruhan materi, media, prosedur dan strategi pembelajaran yang dipergunakan pada pembelajaran anak awas dimodifikasi sedemikian rupa sehingga baik materi, media, dan strategi pembelajarannya sesuai dengan karakteristik anak.

Ketiga: melakukan substitusi, yaitu mengganti materi, media, dan strategi pembelajaran yang berlaku pada pembelajaran anak awas, bahkan mengganti mata pelajaran tertentu, misalnya mata pelajaran menggambar diganti dengan apresiasi seni suara atau sastra. Memberikan tambahan pembelajaran/ kegiaatan ekstra kurikuler yang berkaitan dengan aktivitas kompensatif yang tidak ada pada kurikulum reguler. Misalnya kursus orientasi mobilitas, Activity of dailly living (ADL), computer bicara, dll.

Keempat: melakukan omisi, yaitu penghilangan materi tertentu yang berlaku pada pembelajaran anak awas. Hal tersebut dilakukan apabila ketiga prinsip di atas sudah tidak dapat dilakukan, misalnya meniadakan materi pembiasan, proyeksi warna, pada mata pelajaran/ mata kuliah tertentu, dan lain sebagainya. Adapun metode pembelajaran yang ada digunakan untuk pembelajaran anak tunanetra adalah sebagai berikut:

1.        Strategi pengorganisasian. Strategi pengorganisasian pembelajaran adalah metode untuk mengorganisasiisi mata pelajaran/ kuliah yang telah dipilih untuk pembelajaran. Mengorganisasikan gancu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lainnya yang setingkat dengan itu.

2.      Strategi penyampaian. Strategi penyampaian merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan program pembelajaran. Sekurang-kurangnya ada 2 fungsi dari strategi ini, yaitu:

a.       menyampaikan isi pembelajaran kepada peserta didik

b.      menyediakan informasi/ bahan-bahan yang diperlukan peserta didik untukmenampilkan unjuk-kerja (seperti latihan dan tes).

      Strategi penyampaian mencakup lingkungan fisik, guru, bahan-bahan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Atau, dengan kata lain, peraga merupakan satu komponen penting dari strategi penyampaian pembelajaran. Itulah sebabnya, peraga pembelajaran merupakan bidang kajian utama strategi ini.

Secara lengkap ada 3 komponen yang perlu diperhatikan dalam mendeskripsikan strategi penyampaian:

a.       Peraga Pembelajaran

1)      Upayakan setiap anak mendapat kesempatan untuk mengamati (meraba) media yang tersedia.

2)      Peraga visual dimodifikasi ke dalam peraga auditif, perabaan, namun tidak semua kesan visual dapat diubah ke dalam kesan non visual. Misal persepsi cahaya, bayangan, benda yang hanya dapat dijangkau dengan penglihatan. Hal ini anak tunanetra cukup diberi kesempatan untuk merasakan gejala yang muncul atau bahkan cukup diberikan cerita tentang itu.

3)      Objek tiga dimensi harus disajikan dalam bentuk benda asli atau model.

b. Interaksi peserta didik dengan peraga

1)       Peraga hendaknya jangan terlalu besar atau terlalu kecil, yang ideal adalah sejauh kedua tangan dapat mendeteksi objek secara keseluruhan.

2)      Penyajian tabel/ diagram perlu penjelasan cara membaca dan maksud tabel/diagram tersebut.

3)      Ada jaminan bahwa peraga itu tidak berbahaya, tidak mudah rusak.

4)      Strategi Pengelolaan merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara peserta didik dengan variabel-variabel metode pembelajaran lainnya.

5)      Metode pembelajaran untuk orang awas pada prinsipnya dapat diterapkan terhadap peserta didik tunanetra dengan memodifikasi aktivitas visual ke dalam aktivitas selain visual.

6)      Metode ceramah: kata-kata asing atau kata lain yang belum dikenal hendaknya dosen/ guru mengulangi dan mengeja huruf-demi huruf. Jika antara ucapan dan tulisan berbeda maka dosen/guru harus mengeja huruf demi huruf.

     Layanan pendidikan bagi anak tunanetra pada dasarnya sama dengan layanan pendidikan bagi anak awas hanya dalam teknik penyampaiannya disesuaikan dengan kemampuan dan ketidak mampuan atau karakteristik anak tunanetra. Ditinjau dari segi jenisnya, layanan pendidikan bagi anak tunanetra meliput umum dan layanan khusus.

a.        Layanan umum

Latihan yang diberikan terhadap anak tunanetra, umumnya meliputi hal-hal berikut

1) Keterampilan

2) Kesenian

3) Olahraga

 

     b. Layanan khusus/layanan rehabilitasi

Layanan khusus /rehabilitasi yang diberikan terhadap anak tunanetra, antaralain sebagai berikut:

1) latihan membaca dan menulis braille

2) latihan penggunaan tongkat

3) latihan orientasi dan mobilitas

4) latihan visual/fungsional penglihatan.

 2. Tempat /Sistem Layanana.

a.       Tempat khusus/ sistem segregasi

Tempat pendidikan melalui sistem segregasi bagi anak tunanetra adalah berikut ini:

1)      Sekolah khusus.

 Sekolah khusus yang konvensional adalah Sekolah Luar Biasa untuk anak tunanetra (SLB bagian A). Sekolah ini memiliki kurikulum tersendiri yang dikhususkan bagi anak tunanetra.

2)      Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB).

 SDLB yang dimaksud dalam kurikulum tersebut, diperuntukkan bagi satu jenis kelainan, yaitu anak tunanetra saja, sedangkan dalam konsep SDLB inimerupakan suatu sekolah pada tingkat dasar yang menampung berbagai jenis kelainan, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa.

3)      Kelas jauh/kelas kunjung.

Kelas jauh/kelas kunjung adalah kelas yang dibentuk untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak luar biasa termasuk anak tunanetra yang bertempat tinggal jauh dari SLB/SDLB.

b. Sekolah biasa/sistem integrasi.

BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Dari uraian diatas, penulis memiliki beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut:

1.      Kamus lengkap bahasa Indonesia memaparkan “Tunanetra berasal dari 2 kata, yaitu tuna dan netra, tuna berarti tidak memiliki, tidak punya, luka atau rusak, sedangkan netra berarti penglihatan sehingga tunanetra berarti tidak memiliki atau rusak penglihatan.”

2.      Karakteristik anak tunanetra dapat dilihat dari aspek fisik dan sensorik dan aspek motorik.

3.      Kebutuhan dan layanan pendidikan bagi anak tunanetra yakni ditinjau dari segi jenisnya, layanan pendidikan bagi anak tunanetra meliput umum dan layanan khusus.

 

B.       Saran

Hendaknya makalah ini dapat dijadikan salah satu sumber pembelajaran bagi pembaca. Dan makalah ini bisa bermanfaat bagi banyak pihak, utamanya bagi penulis dan pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Wardani, Dkk. 2011. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: UT.

Hidayat, Dkk. 2006. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: UPI.

Efendi, Muhammad. 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara.

Fitriyah, Chusniatul & Rahayu, Siti Azizah. 2013. Konsep Diri pada Remaja Tunanetra di Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Mangungsong, Frieda. 2011. Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Depok: LPSP3.

Pradopo, soekini dkk. 1977. Pendidikan Anak-Anak Tunanetra. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH MERENCANAKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN ANAK

permohonan izin oprasional paud