MAKALAH PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PENDEKATAN KOMUNIKATIF DAN WHOLE LANGUAGE

 

MAKALAH

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA  PENDEKATAN KOMUNIKATIF DAN WHOLE LANGUAGE

 

DOSEN PENGAMPU:

Muhammada Fery Prayoga,M.Pd

 

Disusun oleh:

Kelompok 2

Amanda santika (Nim:21.03.16.004)

Ikhsan padila (Nim : 21.03.16.061)

Isna khairina hidayah (Nim:21.03.16.078)

Pipin wulantari (Nim: 21.03.16.038)

Fatimah sari (Nim: 21.03.16.063)

 

 

 

MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA II

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL WASHLIYAH  KOTA BINJAI

2023

 

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji syukur atas kehadirat Allah Swt, yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada seluruh umat manusia, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya.

Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang membawa kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang ini yakni dengan agama islam.

Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan pengarahan yang sangat berarti bagi penyusun makalah ini.

Selanjutnya ucapan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu hingga terselesaikannya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya serta dapat menambah ilmu pengetahuan dan pemahaman pada pembahasan makalah ini, aamiin.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah ini.

Demikianlah makalah ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.

 

 

Binjai,   Oktober 2023

 

Penulis

 

             

i

 

DAFTAR ISI

 

 

PENDAHULUAN .................................................................................................... i

DAFTAR ISI............................................................................................................. ii 

BAB I. 1

A. Latar Belakang. 1

B. Rumusan Masalah. 1

C.  Tujuan. 1

BAB II. 2

A. Pengertian Pendekatan. 2

B.  Pendekatan Komunikatif. 2

C.  Pendekatan Whole Language. 8

BAB III. 18

A. Kesimpulan. 18

B. Saran. 18

DAFTAR PUSTAKA.. 19

 

 

 

ii


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar pendidikan di semua jenis jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi. Bahasa Indonesia memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar khususnya sekolah dasar (SD) yaitu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi karena bahasa Indonesia merupakan sarana berpikir untuk menumbuh kembangkan cara berpikir logis, sistematis, dan kritis.

Pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia sejak dini, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Pada penulisan makalah ini, penulis akan mengkaji tentang pendekatan komunikatif dan pendekatan whole language pada pembelajaran bahasa Indonesia.

 

B. Rumusan Masalah

1.      Bagaimanakah pengertian dari pendekatan dalam pembelajaran?

2.      Bagaimanakah pengertian, ciri-ciri dan penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia?

3.      Bagaimanakah pengertian, ciri-ciri dan penerapan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa Indonesia?

 

C.  Tujuan

1.      Untuk dapat mengetahui pengertian dari pendekatan dalam pembelajaran.

2.      Untuk dapat mengetahui pengertian, ciri-ciri dan penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

3.      Untuk dapat mengetahui pengertian, ciri-ciri dan penerapan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendekatan  

Pendekatan menurut Kosadi, dkk (1979) adalah seperangakat asumsi mengenai hakikat bahasa, pengajaran dan proses belajar-mengajar bahasa. Menurut Tarigan (1989) Pendekatan adalah seperangkat korelatif yang menangani teori bahasa dan teori pemerolehan bahasa. Sedangkan menurut Djunaidi (1989) Pendekatan merupakan serangkaian asumsi yang bersifat hakikat bahasa, pengajaran bahasa dan belajar bahasa.[1]

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: 

1.    Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) 

2.    Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

B.  Pendekatan Komunikatif

 Pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat asumsi yang saling berkaitan[2]. Jadi, pendekatan merupakan seperangkat wawasan yang secara sistematis digunakan sebagai landasan berpikir dalam menentukan metode, strategi, dan prosedur dalam mencapai target hasil tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedurprosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa. Pendekatan ini lahir akibat ketidakpuasan para praktisi atau pengajar bahasa atas hasil yang dicapai oleh metode tatabahasa terjemahan, yang hanya mengutamakan penguasaan kaidah tatabahasa, mengesampingkan kemampuan berkomunikasi sebagai bentuk akhir yang diharapkan dari belajar bahasa.[3] Jadi, pendekatan komunikatif ingin menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam proses interaksi antarmanusia. Komunikasi di sini juga bisa berupa komunikasi lisan maupun tertulis.

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi pembelajaran yang komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan produktif maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi buatan yang terlepas dari konteks.  

Pendekatan komunikatif berorientasi pada proses belajar-mengajar bahasa berdasarkan

tugas dan fungsi berkomunikasi. Prinsip dasar pendekatan komunikatif ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi, b) desain materi harus menekankan proses belajarmengajar dan bukan pokok bahasan, dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar.

 Selanjutnya, untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif, menurut Syafi’ie ada delapan hal yang perlu diperhatikan, yaitu: a. Teori Bahasa

 Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.

b. Teori Belajar

 Pebelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini ialah teori pemerolehan bahasa kedua secara alami. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara informal melalui komunikasi langsung di dalam bahasa yang sedang dipelajari. c. Tujuan

 Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan siswa iaitu kebutuhan berkomunikasi, maka tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). d. Silabus

 Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran, yang harus dipehatikan ialah kebutuhan para pembelajar. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang diilih harus sesuai dengan kebutuhan siswa. e. Tipe Kegiatan

 Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi, negosiasi makna, atau kegiatan berinteraksi. f. Peranan Guru

     Guru berperan sebagai fasilitator, konselor, dan manajer proses belajar. g. Peranan Siswa

 Peranan siswa sebagai pemberi dan penerima, sebagai negosiator dan interaktor. Di samping itu, pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai struktur bahasa, tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. h. Peranan Materi

 Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diharapkan mampu melatih kemampuan berbahasa setiap individu yang berupa :[4]

a.              Mengkodifikasikan, mencatat, dan menyimpan berbagai hasil pengalaman dan pengamatan;

b.              Mentransformasikan dan mengolah berbagai bentuk informasi;

c.              Mengkoordinasikan dan mengekspresikan cita-cita, sikap, penilaian, dan penghayatan; dan

d.             Mengkomunikasikan berbagai informasi.

 

Latar Belakang Munculnya Pendekatan Komunikatif

 Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa muncul pada tahun 1970-an sebagai reaksi terhadap empat aliran pembelajaran bahasa yang dianut sebelumnya (grammar translation method, direct method, audiolingual method, dan cognitive learning theory). Keempat metode itu memiliki ciri yang sama yaitu pembelajaran bahasa dalam bidang struktur bahasa yang disebut pembelajaran bahasa struktural atau pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan struktural. Pendekatan struktural menitikberatkan pengajaran bahasa pada pengetahuan tentang kaidah bahasa (tatabahasa) yang biasanya disusun dari struktur yang sederhana ke struktur yang kompleks. Para pebelajar mula-mula diperkenalkan bunyi-bunyi, bentuk-bentuk kata, struktur kalimat, kemudian makna unsur-unsur tersebut.

 Kelemahan pendekatan struktural ialah tidak pernah memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk berlatih menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata yang sesungguhnya lebih urgen dimiliki oleh para siswa ketimbang pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa. Memang kurikulum nasional berupaya menanggulangi dan memperbaiki kelemahan tersebut dengan memberi perhatian pada tujuan akhir bahasa: komunikasi fungsional dan pragmatik antara dan sesama insan.[5]

 Kelemahan dari pendekatan struktural itulah yang mengilhami lahirnya pendekatan komunikatif yang menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Dengan kata lain, bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi.

 

Ciri-ciri Pendekatan Komunikatif

     Pendekatan komunikatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :[6]

a.              Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa;

b.              Tujuan belajar bahasa adalam membimbing peserta didik agar mampu berkomunkasi dalam situasi yang sebenarnya;

c.              Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa;

d.             Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui;

e.              Tujuan utama adalah komunikasi yang bertujuan;

f.               Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas; dan

g.              Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri, dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil

 

Prosedur Pelaksanaan Pendekatan Komunikatif

     Berkenaan dengan prosedur pembelajaran dalam kelas bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif, Finochiaro dan Brumfit menawarkan garis besar kegiatan pembelajaran yaitu sebagai berikut:

a. Penyajian Dialog Singkat

 Penyajian ini didahului dengan pemberian motivasi dengan cara menghubungkan situasi dialog dengan pengalaman pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. b. Pelatihan Lisan Dialog yang Disajikan

 Pelatihan ini diawali dengan contoh yang dilakukan oleh guru. Para siswa mengulang contoh lisan gurunya, baik secara bersama-sama, setengah, kelompok kecil, atau secara individu. c. Tanya Jawab

 Hal ini dilakukan dua fase. Pertama, Tanya jawab yang berdasarkan topik dan situasi dialog. Kedua, tanya jawab tentang topik itu dikaitkan dengan pengalaman pribadi siswa. d. Pengkajian

 Siswa diajak untuk mengkaji salah satu ungkapan yang terdapat dalam dialog. Selanjutnya, para siswa diberi tugas untuk memberikan contoh ungkapan lain yang fungsi komunikatifnya sama.

e.  Penarikan Simpulan

 Siswa diarahkan untuk membuat simpulan tentang kaidah tata bahasa yang terkandung dalam dialog.

f.   Aktivitas Interpretatif

 Siswa diarahkan untuk menafsirkan beberapa dialog yang dilisankan. g. Aktivitas Produksi Lisan

 Dimulai dari aktivitas komunikasi terbimbing sampai kepada aktivitas yang bebas. h. Pemberian Tugas

     Memberikan tugas tertulis sebagai pekerjaan rumah. 

 

Strategi Pembelajaran Dalam Pendekatan Komunikatif

Dalam pendekatan komunikatif, yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. Dengan sendirinya, acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. Dengan kata lain, tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi.

 Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar siswa/ mahasiswa aktif, yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). Cara belajar aktif merupakan perkembangan dari teori Dewey Learning by Doing Dewey sangat tidak setuju dengan rote learning ‘belajar dengan menghafal’.[7] Dewey menerapkan prinsip-prinsip learning by doing, yaitu siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan / siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar-mengajar. Berdasarkan pemahaman tersebut, strategi pembelajaran SCL atau pembelajaran yang berpusat pada peserta didik adalah strategi pembelajaran yang member kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk aktif dan berperan dalam kegiatan pembelajaran 

 

C.  Pendekatan Whole Language

Whole language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah. Whole language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran, dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian dari whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang didasari oleh paham constructivism.Whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa

(menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) diajarkan secara terpadu.[8]

 

Pendekatan whole language membutuhkan lingkungan pembelajaran yang mana siswa berpartisipasi dalam menyusun bahasa untuk berkomunikasi untuk maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Dalam pendekatan ini siswa mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis dengan cara alami. Froese (1990: 3) “Pemakaian pendekatan whole language menekankan pada kebebasan guru dalam pembelajaran bahasa. Guru akan mudah menggunakan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa apabila bahasa yang diajarkan digunakan dalam aktivitas sehari-hari sehingga komponen bahasa menjadi berarti”.

Eisele (1991: 29-47) menyatakan bahwa prinsip-prinsip pendekatan whole language sebagai berikut:

a.         Anak tumbuh dan belajar lebih siap ketika mereka secara aktif mengajak dirinya sendiri untuk belajar.

b.         Strategi dan kemahiran mereka pada proses kompleks seperti membaca dan menulis namun harus difasilitasi dengan baik oleh guru. Mereka perlu didukung secara psikologi.

c.         Untuk membangun munculnya kemampuan membaca dan menulis, siswa perlu mencoba untuk meniru strategi orang tua atau guru 

d.        Pengajaran dengan whole language didasarkan pada pengamatan bawa banyak hal yang dipelajari pada diri siswa, sehingga guru perlu memberikan kesempatan dan mendorong ke dalam proses belajar.

e.         Pembelajaran dengan whole language merangsang siswa untuk belajar secara mandiri. Tugas guru memberikan bimbingan kepada siswa. 

f.          Guru dan siswa bersama-sama belajar dan mengambil resiko serta mengambil keputusan bersama dalam belajar.

g.         Guru mengenalkan interaksi sosial antara siswa, berdiskusi, berbagi ide, bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam belajar.

h.         Guru memberikan materi kepada siswa berupa tes agar mampu membedakan kemampuan mana yang belum optimal serta mendorong siswa untuk menemukan dan mengkritik kelemahan sendiri.

i.           Penilaian disatukan dengan pembelajaran.

j.           Guru membangun dan mengembangkan jenis tingkah laku serta sikap yang diperlukan dalam kemajuan belajar siswa.

 

Menurut Routman (1991) dan Froese (1991) ada delapan komponen whole language: a)   Reading Aloud

Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita lainnya dan membacakannya dengan suara keras dan intonasi yang benar sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya. Manfaat yang didapat dari reading aloudantara lain meningkatkan keterampilan menyimak,memperkaya kosakata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan minat baca pada siswa. b)   Jurnal Writing

Salah satu cara yang dipandang cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa menulis adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran menulis jurnal atau menulis informal. Melalui menulis jurnal, siswa dilatih untuk lancar mencurahkan gagasan dan menceritakan kejadian di sekitarnya, menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan. Banyak manfaat yang diperoleh dari menulis jurnal antara lain:

1)      Meningkatkan kemampuan menulis. Dengan menulis jurnal, siswa akan terbiasa mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan dan ini berarti pula membantu mengembangkan kemampuan siswa dalam menulis, 

2)      Meningkatkan kemampuan membaca. Secara spontan siswa akan membaca hasil tulisannya sendiri setiap ia selesai menulis jurnal. Dengan cara ini tanpa disadari siswa juga melatih kemampuan membacanya. Dengan demikian, menulis jurnal dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa.

3)      Menumbuhkan keberanian menghadapi risiko. Karena menulis jurnal bukanlah kegiatan yang harus dinilai, siswa tidak perlu takut terhadap kesalahan dalam menulis. Kegiatan menulis ini sekaligus dapat digunakan sebagai sarana bereksplorasi,

4)      Memberi kesempatan untuk membuat refleksi. Melalui jurnal siswa dapat merefleksi semua yang telah dipelajarinya atau dilakukannya,

5)      Memfalidasi pengalaman dan perasaan pribadi. Siswa dapat menulis apa saja pengalaman yang dialaminya, baik pengalaman di sekolah maupun pengalaman di luar sekolah. Semua pengalaman itu dapat diungkapkanya melalui tulisan dalam jurnal,

6)      Memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis. Bagi siswa, terutama siswa kelas tinggi, jurnal adalah sarana untuk mengungkapkan perasaan pribadi. Jurnal ini sering juga disebut diary atau buku harian. Untuk jurnal jenis ini, siswa boleh memilih apakah guru boleh membaca jurnalnya atau tidak, 

7)      Meningkatkan kemampuan berpikir. Dengan meminta siswa menulis jurnal, berarti melatih mereka malakukan proses berpikir, mereka berusaha mengingat kembali, memilih kejadian mana yang akan diceritakan, dan menyusun informasi yang dimiliki menjadi cerita yang dapat dipahami pembaca. Dengan membaca jurnal, guru mengetahui kejadian atau materi mana yang berkesan dan dipahami siswa dan mana bagian yang membuatnya bingung,

8)      Meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis. Melalui menulis jurnal, siswa belajar tata cara menulis seperti pengunaan huruf besar, tanda baca, dan struktur kalimat (tata bahasa). Siswa juga mulai menulis dengan menggunakan topik, judul, halaman, dan subtopik. Mereka juga menggunakan bentuk tulisan yang berbeda seperti dialog (percakapan), dan cerita bersambung. Semua ini diajarkan tidak secara formal.

9)      Menjadi alat evaluasi. Siswa dapat melihat kembali jurnal yang ditulisnya dan menilai sendiri kemampuan menulisnya. Mereka dapat melihat komentar atau respon guru atas kemajuannya.

Guru dapat menggunakan jurnal sebagai sarana untuk menilai kemampuan berbahasa anak di samping juga penguasaan materi dan gaya penulisan,

10)  Menjadi dokumen tertulis. Jurnal writing dapat digunakan siswa sebagai dokumen tertulis mengenai perkembangan hidup atau pribadinya. Setelah dewasa, mereka dapat melihat kembali hal-hal yang pernah mereka anggap penting pada waktu dulu.

 

c)         Sustained Silent Reading

Sustained Silent Reading adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan siswa. Siswa dibiarkan untuk memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sendiri sehingga mereka dapat menyelesaikan membaca bacaan tersebut. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan. Pesan yang ingin disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah:

a.         Membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan

b.        Membaca dapat dilakukan oleh siapapun

c.         Membaca berarti kita berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut

d.        Siswa dapat membaca serta dapat berkonsentrasi pada bacaannya dalam waktu yang cukup 

e.         Guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca

f.         Siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya setelah kegiatan SSR berakhir.

 

d)        Shared Reading

Shared Reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. Kegiatan ini dapat dilakukan baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Disini guru lebih berperan sebagai model dalam membaca.

Ada beberapa cara melakukan kegiatan ini:

a.      Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah)

b.      Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku c.   Siswa membaca bergiliran

Maksud kegiatan ini adalah:

a.         Sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru membaca sebagai model 

b.        Memberikan kesempatan untuk memperlihatkan keterampilan membacanya

c.         Siswa yang masih kurang terampil dalam membaca mendapat contoh membaca yang benar

 

e)          Guided Reading

Guided reading disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam membaca terbimbing    penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, tetapi lebih pada membaca pemahaman. Dalamguided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. Guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis, bukan sekedar pertanyaan pemahaman.

 

f)          Guided Writing

Guided Writing atau menulis terbimbing, peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi saran bukan pemberi petunjuk. Contoh kegiatan ini seperti memilih topik, membuat draf, memperbaiki, dan mengedit yang dilakukan sendiri oleh siswa.

 

g)         Independent Reading

Independent Reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berkesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebasmerupakan bagian integral dari whole language. Dalam independent reading, siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dam pemberi respon.

h)         Independent Writing

Independent Writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Siswa mempunyai kesempatan untuk menulis tanpa ada intervensi dari guru. Siswa bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Jenis menulis yang termasuk independent writing antara lain menulis jurnal dan menulis respons.

 

Ciri – Ciri Pendekatan Whole Language

Teuku Alamsyah (2007:21-22) mendeskripsikan ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language. Tujuh ciri-ciri whole language, yaitu sebagai berikut:[9]

a)      Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku pentunjuk dan berbagai barang cetak lainnya. Semua ini disusun dengan rapi berdasarkan pengarang atau jenisnya sehingga memudahkan siswa memilih. Walaupun hanya satu sudut yang dijadikan perpustakaan, tetapi buku tersedia di seluruh ruang kelas.

b)      Di kelas whole language siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Over head projector (OHP) dan transparasi digunakan untuk untuk memperagakan proses menulis. Siswa mendengarkan cerita melalui tape recorder untuk mendapatkan contoh membaca yang benar. 

c)      Di kelas whole language siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya. Agar siswa dapat belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya, di kelas harus tersedia buku dan materi yang menunjang. Buku disusun berdasarkan tingkat kemampuan membaca siswa sehingga siswa dapat memilih buku yang sesuai untuknya. Di kelas juga tersedia meja besar yang dapat digunakan siswa untuk menulis, melakukan editing dengan temannya, atau membuat cover untuk buku yang ditulisnya. Langkah-langkah proses menulis tertempel di dinding sehingga siswa dapat melihatnya setiap saat.

d)     Di kelas whole language siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru. Siswa membuat kumpulan kata (word bank), melakukan brainstorming, dan mengumpulkan fakta. Pekerjaan siswa ditulis pada chart, dan terpampang di seluruh ruangan. Siswa menjaga kebersihan dan kerapian kelas. Buku perpustakaan dipinjam dan dikembalikan oleh siswa tanpa bantuan guru. Buku bacaan atau majalah dibawa oleh siswa dari rumah. Pada salah satu bulletin board terpampang pembagian tugas untuk setiap siswa. Siswa bekerja dan bergerak bebas di kelas.

e)      Di kelas whole language siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan tidak tergantung. Siswa terlibat dalam kegiatan kelompok kecil atau kegiatan individual. Ada kelompok yang membuat pelajaran sejarah. Siswa lain secara individual menulis respon terhadap buku yang dibacanya, membuat buku, menuliskan kembali cerita rakyat, atau mengedit draft final. Guru terlibat dalam konferensi dengan siswa atau berkeliling ruangan mengamati siswa, berinteraksi dengan siswa atau membuat catatan tentang kegiatan siswa.

f)       Di kelas whole language siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru di kelas whole language menyediakan kegiatan belajar dalam berbagai kemampuan sehingga semua siswa dapat berhasil. Hasil tulisan siswa dipajang tanpa ada tanda koreksi. Contoh hasil kerja setiap siswa terpampang di seputar ruang kelas. Siswa dipacu untuk melakukan yang terbaik. Namun, guru tidak mengharapkan kesempurnaan. Yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima. Di kelas whole language mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Ciri kelas whole language adalah pemberian feed back dengan segera. Meja ditata berkelompok agar memungkinkan siswa berdiskusi, berkolaborasi, dan melakukan konferensi. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.

g)      Siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas menyampaikan materi. Sebagai fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.

 

Penerapan Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran

Pendekatan whole language merupakan sebuah pendekatan yang mana semua aspek keterampilan berbahasa dalam proses belajar saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Pada proses pembelajaran ini, siswa dominan untuk belajar mandiri. Siswa ditempatkan sebagai subjek bukan objek. Peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan pendekatan whole language hanya menjadi fasilisator. Guru bertugas untuk membimbing dan mengarahkan dalam suatu pemecahan masalah Dalam pembelajaran menulis pengalaman dengan pendekatan Whole Language kedelapan komponen tersebut diterapkan secara simultan agar hasil yang dicapai memuaskan. Secara rinci gambaran pembelajaran menulis pengalaman dengan pendekatan Whole Language dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian persiapan, pelaksanaan, dan bagian penilaian atau evaluasi.

1)      Bagian Persiapan

Penerapan pendekatan whole language pada tahap persiapan meliputi;

a.       Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),

b.      Mempersiapan bahan pelajaran seperti, gambar alur menulis pengalaman

c.       Mempersiapkan media pembelajaran yang digunakan,

d.      Mempersiapkan berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku pentunjuk dan berbagai barang cetak lainnya

e.       Guru juga mempersiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil dan proses menulis pengalaman siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.

 

2)      Pelaksanaan

Pendekatan whole language terdiri dari 8 komponen. Kedelapan komponen tersebut diterapkan secara simultan dalam pembelajaran menulis pengalaman. Setelah tahap persiapan pembelajaran diselesaikan, maka secara rinci gambaran pembelajaran menulis pengalaman dengan pendekatan Whole Language adalah sebagai berikut:

a)       Reading Aloud (membaca bersuara)

Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita. Guru dapat membacakan cerita pengalaman pribadinya dengan suara nyaring dan intonasi yang baik sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati dan memahami isi ceritanya. Reading aloud dapat dilakukan setiap hari saat memulai pembelajaran. Guru hanya menggunakan beberapa menit saja (10 menit) untuk membacakan cerita. Kegiatan ini juga dapat membantu guru untuk memotivasi siswa memasuki suasana belajar.

b)      Jurnal Writing

Journal writing atau menulis jurnal, pada kegiatan ini guru dapat memberi tugas kepada siswa untuk menuliskan cerita pengalaman selama perjalanan berangkat ke sekolah. Tugas guru adalah mendorong siswa agar mau mengungkapkan cerita yang dimilikinya. Guru juga berkewajiban untuk membaca jurnal yang ditulis anak dan memberikan komentar atau respon terhadap cerita tersebut sehingga ada dialog antara guru dan siswa.

c)       SSR (Sustained Silent Reading)

Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibacanya. Biarkan siswa memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat menyelesaikan membaca bacaan tersebut.

Guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan. Guru dapat memberikan contoh sikap membaca dalam hati yang baik sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan membaca dalam hati untuk waktu yang cukup lama.

d)      Shared Reading

Shared reading ini adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, di mana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. Dalam kegiatan ini guru dan siswa bersama-sama membaca sebuah cerita pengalaman yang sudah disediakan oleh guru. Pada tahap ini guru juga bisa meminta siswa membuka buku paket yang membahas topik tersebut, kemudian siswa diminta membaca keras secara bergantian.

e)       Guided Reading

Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. Guru menjadi pengamat dan fasilitator dan guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis, bukan sekadar pertanyaan pemahaman. Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca yang penting dilakukan dikelas.

f)       Guided Writing

Guided writing atau menulis terbimbing. Seperti dalam membaca terbimbing, dalam menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, yaitu membantu siswa menemukan hal yang ingin ditulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi saran bukan pemberi petunjuk. Dalam kegiatan ini siswa diberi tugas untuk menulis pengalaman tetapi dalam proses writing dalam memilih topik, membuat draf, memperbaiki, dan mengedit dilakukan sendiri oleh siswa.

g)      Independent Reading (membaca bebas)

Dalam independent reading siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dan pemberi respon. Membaca bebas yang diberikan secara rutin walaupun hanya 10 menit sehari dapat meningkatkan kemampuan membaca para siswa. misalnya guru membacakan sinopsis atau ringkasan buku yang terdapat pada halaman sampul. Jika guru pernah membaca buku tersebut, guru dapat menceritakannya sedikit tentang isi buku. Dengan mengetahui sekelumit tentang cerita, siswa akan termotovasi untuk memilih buku dan membacanya sendiri

h)      Independent writing (menulis bebas)

Dalam menulis bebas siswa mempunyai kesempatan untuk menulis tanpa ada interfensi dari guru. Siswa bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Dalam tahap ini siswa dapat menulis pengalamannya tanpa ada tuntutan tema dari guru.

3)   Penilaian atau evaluasi

Tahapan yang terakhir dalam proses belajar mengajar yang dilakukan guru yaitu melakukan evaluasi. Penilaian dan evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses belajar mengajar dalam tahap evaluasi ini guru dapat mendapatkan gambaran ketercapaian siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dalam tahap penilaian guru dapat melakukan dengan cara mengevaluasi hasil tulisan siswa. Dalam penilaian menulis pengalaman hal yang dinilai yaitu dari segi hasil dan proses. Dari segi hasil misalnya dapat dinilai dari segi bahasa, isi, dan teknik atau sistematika penulisan dari segi proses dapat dilihat keaktifan siswa selama mengikuti pelajaran.

Di dalam kelas whole language, guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan siswa. Secara informal selama pembelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan, berdiskusi baik dalam kelompok ataupun diskusi kelas. Penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi, alat penilaiannya seperti observasi dan catatan anecdote. Selain penilaian informal, penilaian dilakukan dengan portofolio. 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

            Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan yang komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan produktif maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi buatan yang terlepas dari konteks.   

Pendekatan whole language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran, dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran. Pendekatan whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) diajarkan secara terpadu. Pendekatan whole language membutuhkan lingkungan pembelajaran yang mana siswa berpartisipasi dalam menyusun bahasa untuk berkomunikasi untuk maksud dan tujuan-tujuan tertentu.

B. Saran

            Kita sebagai seorang calon pendidik khususnya pendidik di Sekolah Dasar, sebaiknya memahami tentang pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran, khususnya pada pembelajaran bahasa Indonesia. Hal ini karena pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang sangat penting. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pembelajarannya juga kita harus memilih pendekatan yang cocok yang dpat dipakai sesuai dengan karakteristik dan perkembangan anak usia Sekolah Dasar demi tercapainya pembelajaran yang baik dalam segala aspek.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hartinah, Sitti. 2010. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Pannen, Paulina dkk. 2001. Mengajar di Perguruan Tinggi: Konstruktivisme dalam Pembelajaran.

Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional..

Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

 

https://gunxgexgruppheyelven.wordpress.com/2013/10/24/pendekatan-pembelajaranbahasa-indonesia-di-sekolah-dasar/

http://nurfitrarahma.blogspot.com/2012/07/pendekatan-dalam-pembelajaran-bahasa.html http://hadislambeng.blogspot.com/2013/11/metode-dan-pendekatan-pengajaranbahasa_27.html

 

 



[1] https://gunxgexgruppheyelven.wordpress.com/2013/10/24/pendekatan-pembelajaran-bahasa-indonesia-disekolah-dasar/                  

[2] Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal :40

 

[3] Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hal :55

 

[4] Hartinah, Sitti. 2010. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama. hal:109-110

[5] Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa hal :137

[6] Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hal : 55-56

[7] Pannen, Paulina dkk. 2001. Mengajar di Perguruan Tinggi: Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Hal : 42

[8] http://hadislambeng.blogspot.com/2013/11/metode-dan-pendekatan-pengajaran-bahasa_27.html

[9] http://nurfitrarahma.blogspot.com/2012/07/pendekatan-dalam-pembelajaran-bahasa.html

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH MERENCANAKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN ANAK

permohonan izin oprasional paud

MAKALAH PRAKTIKUM DAKWAH TAUSIAH TENTANG PERNIKAHAN